Tampilkan postingan dengan label characterbuilding. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label characterbuilding. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 April 2016

PENDIDIKAN ETIKA DAN KECERDASAN DI DUNIA MAYA

Beberapa hari lalu kita dihebohkan dengan berita dan video tentang seorang siswi yang mengaku sebagai anak seorang jenderal ketika dihentikan dan ditegur oleh seorang polwan saat melakukan konvoi pasca selesai mengikuti Ujian Nasional tingkat SMA sederajat. Video yang kemudian diunggah berkali-kali itu mengundang banyak tanggapan dari para viewersnya. Namun, sebagian besar komentar yang ada justru berkesan membully siswi tersebut.

Kita semua sepakat bahwa arogansi yang ditunjukkan siswi tersebut adalah sebuah kesalahan. Namun perbuatan membully yang merendahkan orang lain juga tidak dapat dibenarkan. Apalagi di dunia maya yang cakupan dan efeknya jauh lebih besar daripada bullying secara langsung. Di dunia maya perilaku ini dipertontonkan dan dikonsumsi oleh khalayak yang jumlahnya jauh lebih banyak. Tidak ada batasan pasti yang mengatur siapa saja yang telah membaca kata-kata yang sifatnya bullying dalam komentar para viewers tersebut. Dan mungkin saja telah ada seseorang yang menggunakan komentar tersebut untuk menjatuhkan orang lain.

Dari rangkaian peristiwa ini setidaknya ada dua hal yang bisa jadi perhatian dan diambil sebagai pelajaran berharga untuk perbaikan sikap ke depan.

1. Pendidikan Etika
Sikap arogansi dan bullying yang merebak menjadi indikasi adanya kelemahan dalam pola pendidikan etika di kalangan remaja hari ini. Etika merupakan suatu sikap dan perilaku yang menunjukkan kesediaan dan kesanggupan seseorang secara sadar untuk mentaati ketentuan dan norma kehidupan yang berlaku dalam satu kelompok masyarakat. Etika muncul dari kebiasaan, maka tidak bijak rasanya jika pendidikan etika hanya diserahkan kepada guru dan instansi pendidikan semata. Seluruh lapisan masyarakat bertanggungjawab atas pendidikan etika generasi penerus bangsa. Maka sejatinya pendidikan etika sudah dimulai dari keluarga. Pribadi yang berkarakter hanya bisa terlahir dari keluarga yang berkarakter pula.

Di samping itu, salah satu kebiasaan yang mulai hilang di tengah masyarakat sekarang ini adalah kebiasaan menegur orang yang melakukan kesalahan sekalipun kesalahan itu ada di hadapannya dan dilakukan oleh generasi muda. Para orang tua enggan menegur dengan alasan bahwa anak-anak itu bukanlah tanggungjawab mereka sebab tidak ada ikatan keluarga. Kebiasaan ini jelas melemahkan fungsi kontrol masyarakat terhadap etika generasi muda. Lihatlah betapa instansi kemasyarakatan seperti Masjid, Sekolah justru tidak mampu menghadapi kerusakan akhlak yang ada di sekelilingnya.

Kebiasaan saling menegur dan menasehati untuk memperbaiki kesalahan sudah selayaknya ditumbuhkan di masyarakat. Kebiasaan ini akan menjadikan generasi muda kita malu untuk berlaku tidak sesuai dengan etika masyarakatnya.

2. Kecerdasan di Dunia Maya
Segala sesuatu yang hadir di tengah-tengah kita menuntut kebijaksanaan dan ilmu dalam menyikapinya. Tidak terkecuali perlunya kebijaksanaan dalam bersosial media.

Sebuah kesalahan yang terpampang nyata di dunia maya tidak pula harus diikuti dengan kesalahan yang lain baik itu dalam komentar ataupun dishare secara jamak. Komentar yang menjustifikasi dan share yang massif tersebut secara tidak disadari seakan menutup kesempatan mereka yang bersalah untuk memperbaiki kesalahannya. Pelaku yang bersalah akan semakin terbebani menghadapi masyarakat dan memperbaiki sikapnya. Dalam keadaan seperti ini, kesalahan yang mereka lakukan ukurannya menjadi tidak berarti lagi dibandingkan hukuman dan beban mental yang mereka dapatkan.

Cerdas di dunia maya menjadi sebuah keharusan dalam menghadapi dunia digital saat ini. Tidak semua peristiwa harus dikomentari sebagaimana tidak semua peristiwa juga layak dishare. Berpikirlah terlebih dahulu sebelum melakukan tindakan apapun. Be Wise.
Read More..

Jumat, 12 Februari 2016

ANTARA VALENTINE DAN CINTA

“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan, yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang beriman sangat besar cintanya kepada Allah…” (Al-Baqarah : 165)

“Horee…!” mungkin demikian teriakan beberapa remaja menjelang pertengahan bulan pebruari, pun tak terkecuali dengan remaja islam. Sebenarnya, ada apa sich dengan bulan pebruari?!.

Bulan pebruari hakikatnya sama seperti bulan-bulan lainnya, hanya saja pada bulan tersebut terdapat satu tanggal istimewa yang disepakati (pada umumnya karena ikut-ikutan) oleh orang-orang yang mengaku sebagai pemuja cinta (lebih tepatnya pemuja “mabuk kepayang”) sebagai hari “kasih sayang”. Yup… apalagi kalau bukan hari valentine yang dianggap jatuh pada setiap tanggal 14 pebruari (artinya, hari selain tanggal 14 pebruari adalah sebagai hari yang tidak membutuhkan kasih sayang).

Pada hari valentine, cinta yang sejatinya menjadi hak banyak orang menjadi hal yang dikerdilkan dan disempitkan maknanya. Dia hanya menjadi barang “eksklusif” milik remaja putra dan putri yang berstatus calon pacar atau pacar. Hari valentine biasa dipilih menjadi waktu yang istimewa untuk “nembak” cewek  atau cowok gebetannya, atau bagi yang sudah berstatus pacaran, hari valentine dijadikan momentum untuk menunjukkan besarnya kasih sayang yang dimilikinya pada sang pacar dalam berbagai bentuk tindak nyatanya, mulai dari sekedar memberi kado, membelikan coklat,  hingga memenuhi permintaan sang pacar untuk melakukan zina…Na’udzubillahi min dzalik…

Yuks… Kita Obok-Obok sejarah Valentine…
Sebenarnya ada banyak versi yang tersebar berkenaan dengan asal-usul dari Valentine’s Day, namun pada umumnya kebanyakan orang mengetahui tentang peristiwa sejarah yang dimulai ketika dahulu kala bangsa Romawi memperingati suatu hari besar setiap tanggal 15 Februari yang dinamakan Lupercalia. Peringatan hari besar ini dirayakan untuk menghormati Juno (Tuhan Wanita) dan Perkawinan, serta Pah (Tuhan dari Alam). pada saat itu digambarkan orang-orang muda (laki-laki dan wanita) memilih pasangannya secara diundi, kemudian mereka bertukar hadiah sebagai pernyataan cinta kasih. Dengan diikuti berbagai macam pesta dan hura-hura bersama pasangannya masing-masing.

Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama, dipersembahkan untuk dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata. Pada hari ini, para pemuda mengundi nama–nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk senang-senang dan obyek hiburan. Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan serigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur.

Ketika agama Kristen Katolik menjadi agama negara di Roma, penguasa Romawi dan para tokoh agama katolik Roma mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I (lihat: The Encyclopedia Britannica, sub judul: Christianity). Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St.Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (lihat: The World Book Encyclopedia 1998).

The Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St. Valentine menuliskan ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari, seorang di antaranya dilukiskan sebagai yang mati pada masa Romawi. Namun demikian tidak pernah ada penjelasan siapa “St. Valentine” termaksud, juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda. Menurut versi pertama, Kaisar Claudius II memerintahkan menangkap dan memenjarakan St. Valentine karena menyatakan tuhannya adalah Isa Al-Masih dan menolak menyembah tuhan-tuhan orang Romawi. Orang-orang yang mendambakan doa St.Valentine lalu menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya.

Versi kedua menceritakan bahwa Kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan dari pada orang yang menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda untuk menikah, namun St.Valentine melanggarnya dan diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga iapun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M (lihat: TheWorld Book Encyclopedia , 1998). Kebiasaan mengirim kartu Valentine itu sendiri tidak ada kaitan langsung dengan St. Valentine. Pada 1415 M ketika the Duke of Orleans dipenjara di Tower of London, pada perayaan hari gereja mengenang St.Valentine 14 Februari, ia mengirim puisi kepada istrinya di Perancis. Kemudian Geoffrey Chaucer, penyair Inggris mengkaitkannya dengan musim kawin burung dalam puisinya (lihat: TheEncyclopedia Britannica, Vol.12 hal.242 , The World Book Encyclopedia, 1998).

Lalu bagaimana dengan ucapan “Be My Valentine?”. Ken Sweiger dalam artikel Should Biblical Christians Observe It?” mengatakan kata “Valentine” berasal dari Latin yang berarti : “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. Maka disadari atau tidak, -tulis Ken Sweiger- jika kita meminta orang menjadi “to be my Valentine”. Dalam Islam hal ini tentu termasuk Syirik, artinya menyekutukan Allah. Adapun Cupid (berarti: the desire), si bayi bersayap dengan panah, adalah putra Nimrod, the hunter (dewa Matahari). Disebut tuhan Cinta, karena ia rupawan sehingga diburu wanita bahkan ia pun berzina dengan ibunya sendiri!

Nah… sudah tahu kan sejarah hari valentine? Dari sejarahnya kita mengetahui bahwa perayaan atau merayakan valentine bukanlah berasal dari ajaran Islam, melainkan kebudayaan Romawi yang diberi nilai-nilai ke“nasrani”an. Di saat kita marah kebudayaan negara kita diadopsi oleh negara lain…eh, di saat yang sama ternyata kita juga mengadopsi kebudayaan orang lain, bahkan tidak tanggung-tanggung, kebudayaan agama yang menyangkut keyakinan dan cara hidup.

Padahal Rasulullah SAW sdh mengingatkan dalam haditsnya :
“Barang siapa yang meniru atau mengikuti suatu kaum (agama) maka dia termasuk kaum (agama) itu"

Jadi, masih mau merayakan valentine…?

Ada Apa dengan Cinta…?
Cinta memang absurd. Tidak ada yang benar-benar mampu mendefenisikan secara mutlak makna cinta, sebab cinta bukanlah sesuatu yang sekedar didefenisikan belaka, melainkan sesuatu yang indah bila dirasa, dan tenang saat ia menyapa.

Cinta sebagaimana fitrahnya merupakan anugerah dan cinta juga musibah. Cinta menjadi kenikmatan bila karena Allah dan dijalan-Nya (Al-Hubb Fillah wa Lillah). Cinta islami demikian tidaklah mengenal batas ruang dan waktu serta melampaui batas fisik materi. Cinta yang fitri kata orang bijak adalah buah yang tak mengenal musim dan dapat dipetik oleh siapa pun. Cinta yang demikian tak jadi masalah kepada siapa dan seberapa besar asalkan karena Allah dan dijalan-Nya. Inilah rumus cinta suci segitiga dalam Islam; cinta proporsional (equilibrium love) antara cinta kepada Allah yang tidak menelantarkan cinta kepada makhluk, dan cinta kepada makhluk yang tidak melalaikan bahkan senantiasa dalam cinta kepada Allah Sang Khalik.

Perasaan cinta pada dasarnya sebuah kenikmatan. Betapa indahnya hidup yang dipenuhi cinta sejati dan betapa sengsaranya hidup yang dipenuhi kebencian. Orang yang dipenuhi semangat cinta yang suci mulia akan selalu merasa bahagia sebelum orang lain bahagia sehingga mendorongnya untuk memiliki sikap tenang, damai, puas dan ridha. Bahkan cinta merupakan energi dahsyat kehidupan yang mengilhami Lao Tzu, filsuf Cina yang hidup sekitar abad ke-6 SM untuk merangkai kata mutiara bahwa dicintai secara mendalam oleh seseorang akan memberimu kekuatan, dan mencintai seseorang secara mendalam akan memberimu keberanian. Demikian Plato filsuf Yunani kuno juga berkesimpulan bahwa cinta adalah sumber keindahan sehingga dengan sentuhan cinta setiap orang dapat menjadi pujangga.

Mabuk asmara sebagaimana dikatakan filosof Plato merupakan cinta buta yang bergelora dalam jiwa yang kosong. Aristoteles juga berujar: “Cinta buta adalah cinta yang buta untuk melihat kesalahan orang yang dicintai. Cinta buta adalah kebodohan yang membalikkan hati yang hampa, sehingga ia tidak lagi mau memikirkan yang lain.” Oleh karena itu perlu manajemen cinta untuk menghindarkan ekses negatif dan efek kegilaan cinta yang menjurus kepada cinta buta yang sangat berbahaya sebagaimana dilukiskan penyair Qais: “Kau gila karena orang yang kau cinta. Memang cinta buta itu lebih parah dari gila. Orang tidak bisa sadar karena cinta buta, sedang orang gila bisa terkapar tak berdaya”. Bahkan yang lebih parah lagi bila cinta menghanyutkan seseorang sehingga melupakannya dari prioritas cinta lainnya seperti melupakan ataupun menduakan cinta kepada Allah yang dapat berakibat syirik.

Cinta memang persoalan hati (qalbu) dan hati seperti namanya adalah bersifat labil (yataqallabu) sehingga yang diperlukan adalah upaya maksimal lahir batin dalam pengendaliannya secara adil untuk setiap yang berhak atasnya.

Melalui proses manajemen dan pengendalian cinta, seseorang dapat menjadikan perasaan cinta sebagai motivasi kontrol dalam kerangka kebajikan dan kemuliaan. Inilah esensi pesan Risalah Islam mengenai Alhubb wal Bughdhu fillah (Cinta dan benci karena Allah) sehingga kita tidak akan termakan oleh doktrin sinetron yang menyesatkan seperti sinetron “Kalau cinta jangan marah”. Hal itu karena kemarahan dalam perspektif manajemen cinta merupakan kelaziman cinta sejati yang diekspresikan dalam bentuk yang arif bijaksana tanpa keluar jalur syariat sebagaimana kemarahan Nabi SAW diungkapkan dalam bentuk ekspresi perubahan mimik muka, diam, atau isyarat lainnya sebagai peringatan yang selanjutnya diberikan penjelasan dan dialog dari hati ke hati. Karenanya, beliau tidak menyukai lelaki yang suka memukul wanita bila marah apalagi sampai menampar wajah. Sebaliknya beliau juga tidak menyukai wanita yang meninggalkan atau mengkhianati suaminya bila sedang marah.

Manajemen cinta akan menumbuhkan sikap adil dalam cinta yang membawa hidup sehat dan seimbang (tawazun) dan bukan menjadi sumber penyakit sebagaimana Ibnul Qayyim sampaikan bahwa cinta bagi ruh sama dengan fungsi makanan bagi tubuh. Jika engkau meninggalkannya tentu akan membahayakan dirimu dan jika engkau terlalu banyak menyantapnya serta tidak seimbang tentu akan membinasakanmu. Kelezatan hidup inilah yang dilukiskan dalam hadits tentang kelezatan iman:

Ada tiga perkara yang siapa pun memilikinya niscaya akan merasakan kelezatan iman; barang siapa yang Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari lainnya, barang siapa yang mencintai seseorang hanya karena Allah, dan siapa yang benci kembali kepada kekafiran sebagaimana ia benci dicampakkan ke dalam neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Manajemen cinta mengajarkan agar perasaan cinta kepada seseorang tidak menghalangi kita untuk tetap melakukan segala hal yang semestinya kita kerjakan. Sehingga kita tidak akan melakukan ataupun meninggalkan segala hal demi rasa cinta ataupun mendapatkan cinta dari orang yang kita cintai meskipun hal itu bertentangan dengan kemaslahatan (kebaikan) dirinya, membahayakan orang lain dan menimbulkan kerusakan di muka bumi atau memancing kemarahan Allah. Karena sikap demikian merupakan cinta buta yang bodoh. Sebagai contoh seorang ibu yang begitu memanjakan anaknya karena cintanya yang mendalam sampai melupakan pendidikan dan pengajarannya yang pada gilirannya justru akan menjadi bumerang bagi orang tuanya karena menjadi anak durhaka.

Seorang muslim tidak mengenal cinta monyet, cinta buta, cinta dusta, cinta palsu dan cinta bodoh. Ia hanya mengenal cinta suci mulia yang penuh kearifan dan kesadaran yang melahirkan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya dan meletakkan cinta tersebut di atas segala-galanya sebagai tolok ukur cinta lainnya. Suatu ketika seorang Arab badui menghadap Nabi saw dan menanyakan perihal datangnya kiamat, lalu beliau balik bertanya: “Apa yang telah kau persiapkan?” Ia menjawab: “Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya” Beliau menyahut: “Engkau bersama siapa yang kau cintai” (HR. Bukhari dan Muslim)

Cinta karena Allah dan benci karena Allah akan menjadi filter, kontrol sekaligus tolok ukur dalam mencintai segala hal. Dengan demikian cinta yang tulus karena Allah Dzat Maha Abadi inilah yang akan bertahan abadi sementara cinta yang dilandasi motif lainnya justru yang akan cepat berubah, bersifat temporer dan akan membuahkan penyesalan. (QS. Az-Zukhruf: 43, Al-Furqan: 25).

Skala prioritas cinta adalah hal yang niscaya dan semestinya diimplementasikan dalam manajemen cinta agar tidak bertabrakan dan memberantakkan hubungan, karena dalam hidup banyak hal yang harus dan secara fitrah kita cintai (QS. Ali Imran: 14). Sebagai ilustrasi ada baiknya kita sebutkan model prioritas cinta yang pertama adalah cinta Allah dan Rasul-Nya yang berarti cinta Islam, aqidah, syariat dan jihad fi sabilillah di atas segala-galanya. Kemudian cinta kepada orang tua bagi anak lelaki dan bagi wanita yang belum menikah adapun wanita yang sudah menikah kepada suami baru kepada orang tua. Lalu kepada istri dan anak bagi lelaki dan seterusnya yang lebih bersifat materi, fasilitas fisik dan civil efek serta pengakuan ataupun aktualisasi diri dalam konteks hubungan sosial.

Wallahu a’lam bishawwaabb…
Read More..

Sabtu, 23 Januari 2016

"KETIKA MAS GAGAH PERGI THE MOVIE" BERAWAL DARI CERPEN

Terkesan akan kenangan pertama sekali membaca novellet dengan judul yang sama di tahun 2000-an ketika masih dibangku kuliah dulu mendorong saya untuk menonton versi layar lebarnya kemarin. Film yang harus menjalani proses yang cukup panjang dari novelletnya untuk diangkat ke layar lebar ini cukup memuaskan ekspektasi saya dan menjawab kekhawatiran saya sebelumnya. Film ini menurut saya telah mampu mewakili semangat perubahan yang diusung penulis novelletnya.


Dengan permainan karakter yang kuat dari para pemerannya yang dipilih melalui proses audisi, film ini mampu mengangkat konflik sederhana tentang hubungan antara kakak beradik Gagah dan Gita menjadi sebuah cerita menarik yang menguras emosi. Gita yang sangat mengidolakan kakaknya, tidak bisa menerima perubahan sikap kakaknya sekembalinya sang kakak dari tugas kuliah di luar kota. Gagah yang semula terlibat dalam dunia modeling dan populer mendadak berubah menjadi pemuda yang lebih kalem, dan tenang. Gagah menjadi pribadi yang lebih peduli pada lingkungan dan sesama. Hal inilah yang mengusik Gita. Kebersamaan yang sebelumnya mereka jalani seakan hilang seiring perubahan sikap Gagah. Dalam pemberotakannya, Gita justru menemukan jawaban dari orang-orang yang tidak ia kenal sebelumnya. Beserta dengan tokoh dan konflik lainnya, film ini juga berusaha menyampaikan Islam secara menyeluruh dengan apik dan tentunya dengan pendekatan remaja.

KMGP sendiri awalnya adalah sebuah cerpen yang ditulis oleh Mbak Helvy Tiana Rosa (HTR) di tahun 1992 dan dibukukan pertama sekali dalam bentuk novellet pada tahun 1997. Sampai kini novellet KMGP sudah masuk cetak ulang ke 40 dengan lebih dari sejuta eksemplar dan dibaca oleh sekitar tiga juta pembaca.

Di film ini Mbak HTR sendiri berlaku sebagai produsernya. Dengan taglinenya "Ini film kita, kita yang membiayai", akhirnya Mbak HTR mampu mengangkat KMGP ke layar lebar setelah pada tahun lalu melakukan roadshow di beberapa kota di Indonesia dan mendapat dukungan dari berbagai pihak yang peduli dengan idealisme yang diusung film ini.

Menilik dari sejarah novelletnya yang sudah menjamah banyak pembaca dan lintas generasi, seharusnya film ini mampu menyamai kesuksesan novelletnya. Penampilan yang luar biasa dari para bintang pendatang baru seperti Hamas Syahid (Gagah), Aquino Umar (Gita), Masaji Wijayanto (Yudi) dan Izzah Ajrina (Nadia) yang didukung oleh beberapa aktris dan aktor senior merupakan daya tarik tersendiri film ini disamping alur cerita dan pesan yang ingin disampaikan film ini. Pesan perubahan dan kebaikan yang tidak berkesan menggurui mengalir lembut melalui dialog para tokoh-tokohnya. Salah satu dialog yang berkesan diantaranya adalah kata-kata yang diucapkan Gagah "Untuk kebaikan yang belum kau pahami, setidaknya belajarlah untuk menghargainya".

Sekalipun ia telah bermetamorfosis menjadi layar lebar, KMGP ternyata tidak berhenti mengusung kebaikan. Dengan menonton KMGP, para penonton telah turut berpartisipasi membangun pendidikan bagi anak-anak di Indonesia Timur dan Palestina. Film bergenre drama ini sangat saya rekomendasikan untuk ditonton, terutama oleh para remaja yang hari ini sedang belajar memperbaiki diri. 
Read More..

Selasa, 29 Desember 2015

KEREN SIH, TAPI...

Dalam menentukan sikap, tindakan dan mengambil keputusan, manusia akan dipengaruhi oleh dua hal mendasar. Pertama, sudut pandang (perspektif) yang digunakannya pada saat itu, dan yang kedua adalah keilmuan atau pemahaman yang dimilikinya tentang hal tersebut. Jika pada akhirnya diketahui bahwa keputusan atau tindakan yang diambilnya tidak benar, berarti terdapat kesalahan pada salah satu dari kedua hal tersebut, atau bahkan mungkin keduanya salah. Kesalahan pada keilmuan dan pemahaman dapat dengan mudah diatasi dengan cara memberi tahu atau menyampaikan wawasan yang lebih baik dari yang dipahami sebelumnya. Namun, kesalahan dalam menggunakan perspektif akan memerlukan waktu dan usaha yang lebih untuk memperbaikinya. Adakalanya perspektif dapat diperbaiki seiring bertambahnya keilmuan, dan adakalanya keilmuan dan pemahaman bertambah ketika perspektif telah benar.

Hanya dalam hitungan jam saja, kita akan memasuki pergantian tahun masehi. Berbagai rencana mungkin telah tersusun di kepala kita untuk mengisi pergantian tahun tersebut. Sebagian besar berfokus pada hura-hura di malam pergantian tahun nanti, dan hanya sebagian kecil yang berfokus pada resolusi, cita-cita dan harapan yang ingin dicapai pada tahun yang akan datang. Sebagian besar menyibukkan diri dengan membaca artikel atau tulisan-tulisan yang berhubungan dengan peruntungan di tahun depan dan menghubung-hubungkannya dengan zodiak dan apapun itu yang bukan berasal dari islam, sedangkan sebagian kecil lainnya melakukan evaluasi terhadap target-target mereka sebelumnya dan memantapkan rencana untuk target mereka ke depan.

Sebagai generasi muslim hendaknya senantiasa menggunakan perspektif islam dalam mengambil sikap dan menentukan kegiatan apa yang akan dilakukan dalam pergantian tahun. Jangan sampai kita terjebak dalam kegiatan yang sia-sia apatah lagi kegiatan yang sifatnya hanya mengandung kesenangan sementara namun mengundang kesengsaraan yang abadi. Oleh sebab itu seorang muslim hendaknya berusaha sekuat mungkin meninggalkan hal yang sia-sia di seluruh dimensi kehidupannya.

"Di antara tanda sempurnanya islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat" (HR. Tirmidzi)

Kita memang mudah tertarik dengan kemeriahan malam pergantian tahun baru. Riuh rendah suara terompet, suara petasan dan percikan-percikan kembang api di udara, konser musik dan keramaian di lapangan, serta arak-arakan di jalanan merupakan hal-hal yang mungkin mengundang kita untuk bergabung dengan kemeriahan tersebut. Apalagi dalam kemeriahan tersebut kita melihat orang-orang yang kita kenal, teman bahkan keluarga turut menambah daya tarik kemeriahan perayaan pergantian malam tahun baru.

Keren sih, tapi jika ternyata kemeriahan tersebut tidak memiliki kedudukan yang jelas dalam perspektif Islam bahkan cenderung menjadi sia-sia dan mubazir karena menghabiskan biaya yang tidak sedikit maka menghindarinya merupakan keputusan terbijak yang menjadi pilihan. Ditambah lagi kekhawatiran akan terjebaknya kita dengan kebiasaan atau perilaku kaum di luar Islam yang justru menjadikan kita termasuk dalam kaum tersebut.

"Barang siapa yang mengikuti suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka" (HR. Abu Daud)

Be Wise!
Read More..

Senin, 23 November 2015

GURU, MASIHKAH KAU PAHLAWAN?

Guru, masihkah kau pahlawan? Sebuah pertanyaan yang mungkin harus ditanyakan ke dalam diri kita sebagai seorang guru di tengah tuntutan profesionalisme yang diukur dengan sebuah sertifikat dan nominal angka. Pertanyaan yang mungkin kita lupakan ketika kita menuntut perhatian pemerintah atas kerja kita mendidik anak-anak bangsa. Dan kini ketika perhatian itu sedikit kita dapatkan, pertanyaan itu seakan pil pahit yang menyangkut di tenggorokan. Pertanyaan yang saya sendiri ragu untuk menjawabnya.

Sekolah atau madrasah merupakan tempat menempa generasi penerus bangsa. Ia juga merupakan benteng terakhir kejujuran dan semangat perbaikan. Padanya disandarkan banyak harapan akan masa depan yang lebih baik. Namun di tengah pertentangan nilai dalam kehidupan saat ini, sekolah sepertinya tidak begitu tangguh untuk menjadi tiang harapan tersebut. Di saat dunia bisnis mengajarkan persaingan, sekolah tidak begitu kuat mengajarkan gotong-royong dan kerjasama. Di saat dunia politik menghalalkan semua cara demi merebut kekuasaan, sekolah gagal menciptakan negarawan dan pemimpin. Dan di saat hukum menjadi tumpul, sekolah gagal menanamkan nilai-nilai kepatuhan terhadap peraturan.

Melemahnya fungsi sekolah merupakan bukti yang menunjukkan melemahnya peran setiap elemen yang terlibat didalamnya. Guru, tenaga kependidikan, serta mereka yang terlibat dalam mengurus dan menentukan kebijakan sekolah merupakan elemen utama yang menjalankan fungsi sekolah. Guru tentu menjadi elemen utama dalam menjalankan fungsi sekolah sebagai tempat transfer sikap, pengetahuan dan keahlian. Sedangkan elemen lain sebagai pendukung agar guru menjalankan fungsinya dengan baik. 

Bertambahnya tugas-tugas guru seiring tuntutan profesionalisme terkadang menjadi penyebab terbengkalainya tugas utama. Tak jarang di beberapa sekolah banyak kelas yang dibiarkan tanpa guru saat sang guru harus dituntut melengkapi administrasi demi tunjangan profesi. Tak sedikit pula guru yang belum disertifikasi mulai hitung-hitungan terhadap pengabdian mereka dengan imbalan jasa yang diperolehnya. Pada akhirnya guru mulai kehilangan jiwanya saat mendidik, mudah emosi, hingga berlaku tidak selayaknya seorang guru. Tanpa menyadarinya, guru secara tidak langsung justru mengajarkan persaingan yang tidak sehat, bahkan mengajarkan ketidakpatuhan terhadap peraturan. 

Tuntutan profesionalisme tentu juga menuntut guru untuk lebih banyak mengorbankan waktunya. Semangat berkorban inilah yang selayaknya dimiliki seorang pahlawan. Pahlawan yang bisa menjadi ikon nyata dihadapan para siswanya. Sehingga sifat-sifat pahlawan itu tertransfer baik pada generasi penerus yang sedang ditempa di sekolah-sekolah mereka.

Guru, masihkah kau pahlawan jika pada kenyataannya waktumu lebih banyak kau sibukkan mengejar imbalan atas jasamu?. Masihkah kau pahlawan jika pada kenyataannya jiwamu tidak menyertai kehadiranmu saat melaksanakan tugas?. Masihkah kau pahlawan jika pada kenyataannya kau justru menjadi pribadi yang tidak layak digugu dan ditiru?. Mungkin pribadi kita masing-masing yang mampu menjawabnya. 

Mungkin beberapa tahun ke depan, kita tidak lagi mengenal istilah "pahlawan tanpa tanda jasa". Mungkin saja istilah tersebut akan hilang digerus oleh tuntutan kehidupan hingga setiap jasa harus diukur dengan sejumlah nilai kesejahteraan. Tapi tentu saja kita semua berharap setiap guru tetap memiliki jiwa pahlawan, sekalipun itu adalah "pahlawan dengan tanda jasa". Karena sejatinya guru adalah pahlawan.

(sebuah catatan pinggir menjelang hari guru)
Read More..

Minggu, 20 September 2015

INSIDE YOU PLUS OUTSIDE YOU PLUS

There's a hero
If you look inside your heart
You don't have to be afraid
Of what you are...

There's an answer
If you reach into your soul
And the sorrow that you know
Will melt away...

And you finally see the truth
That a hero lies in you...

Itulah sepenggal sya'ir lagu "Hero" yang dibawakan oleh Mariah Carey. Lagu yang mengingatkan kepada kita untuk senantiasa melihat ke dalam diri ketika menghadapi pelbagai masalah kehidupan sebelum melakukan ekspansi dalam bentuk tindakan. Sekalipun lagu ini terlalu berpandangan dari sisi insaniyahnya untuk mengandalkan diri sendiri dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi dan seakan melemahkan peran Ilahi di dalamnya, namun lagu ini bagi saya pribadi cukup efektif membangkitkan semangat dan mengembalikan mood saya. Tentu saja setelah mengadukan masalah tersebut kepada pemilik sejatinya.

Dikisahkan seorang pemilik restoran megah tertarik dengan dua pemusik jalanan yang selalu bermain musik di depan restoran miliknya. Beliau kemudian berniat mempekerjakan salah satu diantaranya untuk menjadi pemusik tetap di sana. Namun dia bingung untuk memilih yang terbaik diantara mereka sebab menurut penilaiannya kedua pemusik tersebut memiliki skill yang tidak jauh berbeda. Akhirnya, dia memutuskan mengundang keduanya untuk mendapatkan jamuan khusus di restoran miliknya.

Menjelang hari yang telah ditentukan, kedua pemusik jalanan mempersiapkan diri mereka untuk menghadiri jamuan tersebut. Bagi mereka, makan di restoran megah merupakan kenyataan yang tidak pernah mereka impikan sebelumnya. Apalagi jamuan kali ini merupakan undangan khusus dari sang pemilik restoran sendiri.

Pemusik jalan yang pertama mempersiapkan dirinya dengan membeli pakaian baru, sepatu baru dan jam tangan baru. Dia membelanjakan hampir seluruh penghasilannya untuk semua kelengkapan yang menurutnya harus dipakainya ketika jamuan itu. Sedangkan pemusik yang ke dua memangkas dan merapikan rambutnya, mandi dan membersihkan dirinya, mempersiapkan pakaian terbaiknya, membersihkan sepatunya, serta memperbaiki jam tangannya untuk menghadiri jamuan tersebut.

Pada saat jamuan, sang pemilik restoranpun menyampaikan maksud undangannya tersebut. Dari penilaiannya terhadap kedua pemusik tersebut maka pilihannya adalah pemusik yang ke dua. Jadilah si pemusik ke dua bekerja sebagai pemusik tetap di restoran tersebut, sedangkan pemusik yang pertama tetap menghabiskan hari-harinya bermain musik di jalanan.

Apa yang terlupakan si pemusik pertama? Dia lupa memperhatikan dirinya. Memperhatikan ke dalam diri merupakan sumber kekuatan yang luar biasa yang dapat merubah apa yang ada di luar kita. Segala yang ada di dalam diri menjadi penentu kualitas sikap yang kita munculkan. Karakter merupakan buah dari apa yang tumbuh di dalam diri kita. Bahkan, rasa bahagia juga berasal dari dalam diri.

Membangun pribadi yang tertata memang tidak sesederhana membangun gedung bertingkat. Perlu waktu panjang untuk senantiasa melakukan selftalk  yang intensif hingga terbentuk image diri yang tertanam dalam pikiran sadar kita.Tentulah informasi yang ditanamkan dalam selftalk adalah informasi yang benar agar image diri yang terbentuk juga benar.

Selftalk adalah komunikasi yang kita lakukan dalam diri sendiri, dimana kita bertindak sebagai komunikator sekaligus sebagai komunikan. Sedangkan image diri adalah cara pandang kita terhadap diri yang menjadi tolak ukur terhadap sikap maupun tindakan yang akan ditampilkan, Kedua hal inilah yang membentuk karakter lahiriyah kita, dan kedua hal tersebut bersumber dari dalam diri kita. Inside you plus outside you plus.

Jadi, karakter apa yang ingin ditanamkan dalam diri anda? Mulailah dengan menyampaikan informasi yang benar tentang karakter tersebut dalam diri anda dan bayangkan "gagah"nya diri anda dengan karakter tersebut. Senantiasa berdo'a kepada Allah, dan jadilah pribadi yang bisa diandalkan.

"Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, sampai kaum itu merubah apa yang ada dalam diri mereka" (Q.S. Ar-Ra'd : 11)

And then a hero comes along
With the strength to carry on
And you cast your fears aside
And you know you can survive
So when you feel like hope is gone
Look inside you and be strong
And you finally see the truth
That a hero lies in you...
Read More..

Selasa, 02 Juni 2015

SEBESAR APA KESUNGGUHANMU

Telah ditentukan dalam kehidupan kita bahwa apa yang kita alami merupakan ujian. Ujian yang menjadi standar akan kebenaran iman sebagaimana terdapat dalam Al-Qur’an surat Al-Ankabut ayat 2 dan 3.

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan “kami telah beriman”, dan mereka tidak diuji?. Dan sungguh, kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang berdusta” (QS. 29 : 2-3)

Hal-hal menyenangkan baik berupa harta, kedudukan, anak-anak dan sebagainya adalah ujian kesyukuran dan amanah. Sedangkan hal-hal yang tidak menyenangkan semisal musibah, penyakit dan lainnya adalah ujian kesabaran.

Salah satu unsur penting dalam menghadapi semua ujian itu adalah kesungguhan. Kesungguhan adalah wujud dari sikap berteguh hati terhadap keyakinan bahwa ujian yang tengah dihadapi bersifat sementara dan akan berlalu. Dengan kesungguhan kita akan berusaha bangkit dari ujian yang tidak menyenangkan dan kesungguhan akan menghindarkan kita dari keterlenaan saat ujian kesenangan.

Upaya yang dilakukan secara terus-menerus merupakan indikator kesungguhan. Mereka yang terus berupaya akan terhindar dari sikap menyerah dan keputus asaaan. Tentu saja upaya yang dilakukan adalah upaya yang senantiasa diperbaiki cara dan maknanya. Tanpa proses perbaikan hanya akan menemui kegagalan baru yang bisa mengikis kesungguhannya.

Dalam pepatah arab kita mengenal “man jadda wajada” yang bermakna siapa yang bersungguh-sungguh akan mendapat. Hal ini menunjukkan bahwa hasil baik hanya akan menemui mereka yang telah bersungguh-sungguh mengupayakan.

Kesungguhan seseorang dapat dilihat dari kesediaannya untuk berkorban. Mereka yang bersungguh-sungguh akan dengan sukarela berkorban baik dari segi tenaga, waktu, harta bahkan diri mereka. Mereka meyakini bahwa hasil yang akan mereka dapatkan tentunya setimpal dengan pengorbanan yang mereka lakukan. Kesungguhan juga dapat dilihat dari kedisiplinan seseorang menjalankan rencana atau program yang telah ditetapkan. Hanya mereka yang memiliki disiplin yang mampu merealisasikan rencana dan mengupayakan keberhasilan.


Pribadi yang mampu melampaui ujiannya adalah pribadi yang memiliki kesungguhan dalam keimanannya, kesyukuran dan kesabarannya.
Read More..

Minggu, 24 Mei 2015

KETIKA MAS GAGAH (TAK HARUS) PERGI (LAGI)

KETIKA MAS GAGAH PERGI : MIMPI MEMBANGUN GENERASI DALAM IDEALISME SASTRA

Hari sabtu kemarin (23/5) saya berkesempatan menghadiri sebuah acara yang digagas oleh teman-teman dari FLP Sumut dan ACT (Aksi Cepat Tanggap). Acara yang bertajuk “Membentuk Generasi Berkarakter dan Religius” dan “Sosialisasi Film Ketika Mas Gagah Pergi” ini menghadirkan penulis KMGP Mbak Helvy Tiana Rosa dan penulis GGC (Gue Gak Cupu) -bukan GGS- Anugrah Roby yang juga pengurus FLP Sumut.

Ketertarikan saya menghadiri acara tersebut -selain karena pembicara dan temanya- adalah ingin mengetahui kisah sebenarnya tentang perjalanan film KMGP langsung dari penulisnya Mbak HTR. Awal kebersinggungan saya dengan KMGP disekitar tahun 2000-an saat duduk di perkuliahan. Bagi saya yang saat itu baru mulai memetamorfosis diri, KMGP meninggalkan kesan yang begitu kuat bagi diri saya –mengajari saya kalau ternyata saya ternyata mellow juga- hingga kemudian mencoba mencari-cari sosok mas gagah diantara para senior saya ketika itu atau terkadang membayangkan seakan saya adalah mas gagah (terlalu ke-pede-an nih).

Selang beberapa waktu setelah itu saya membaca berita bahwa KMGP akan diangkat ke layar bioskop. Namun, hingga saat ini film tersebut ternyata urung dibuat. Sebab mengapa KMGP tidak juga diangkat ke layar bioskop itulah yang menjadikan saya penasaran. Hingga ketika saya mendapatkan pesan tentang adanya kegiatan “Sosialisasi Film KMGP” kemarin saya mengupayakan hadir meskipun harus curi-curi waktu dari tugas saya di sekolah. J

Peluang diangkatnya sebuah karya sastra menjadi sebuah film sehingga menjangkau lebih banyak audien (bukan sekedar yang hobi baca) semakin terbuka lebar di tengah menggeliatnya perfilman negeri ini. Sebut saja Ayat-Ayat Cinta karangan Kang Abiq, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk tulisan Buya HAMKA dan beberapa film lainnya yang diangkat dari sebuah karya sastra. Maka, bagi saya pribadi urungnya pembuatan film KMGP menjadi sebuah pertanyaan, sementara dari segi cerita, karakter tokoh, nilai moral dan religiutas KMGP tidak kalah dari Ayat-ayat Cinta dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk. Bahkan bagi saya KMGP memiliki nilai lebih tersendiri dibandingkan yang lain.

Dari penuturan Mbak HTR sendiri ternyata faktor utama yang menjadi penyebab belum diproduksinya KMGP menjadi sebuah film bukan karena tidak ada rumah produksi yang menginginkannya melainkan idealisme yang ingin tetap dipertahankan oleh Mbak HTR yang tidak bisa dipenuhi pihak rumah produksi. Memang, jika kita melihat beberapa film yang diadaptasi dari sebuah novel terasa kurang “greget” dibandingkan novelnya sendiri. Beberapa part dalam novel aslinya tidak tersampaikan dengan jelas maksudnya bahkan beberapa diantaranya dihilangkan. “Ruh” asli dari cerita KMGP inilah yang ingin dipertahankan Mbak HTR.

Alasan Mbak HTR mempertahankan bukanlah tidak kuat mengingat KMGP merupakan cerita yang sangat menginspiratif pembacanya untuk memperbaiki diri dan menjadi generasi islam yang benar pemahaman keislamannya. Dan mengingat perjalanan KMGP yang sudah 23 tahun (sejak 1992) dan telah berkali naik cetak dengan beberapa tambahan tentulah telah banyak generasi yang terinspirasi karenanya. Inilah mimpi membangun generasi islam dan menciptakan perubahan dalam idealisme sastra.

Mbak HTR sendiri juga tidak menunggu begitu saja idealisme dalam KMGP menghilang karenanya saat ini beliau sedang gencar melakukan road dibeberapa kota termasuk di kota Medan dan mensosialisasikan gerakan “Patungan Membuat Film KMGP”. Gerakan yang menyasar setiap pribadi yang juga mempunyai impian yang sama sebagaimana mimpi Mbak HTR untuk mewujudkan KMGP the movie yang tetap membawa ruh sastranya. Karenanya siapapun anda yang memiliki kenangan ataupun yang ingin membuat kenangan dengan KMGP layak turut mendukung gerakan ini. Mari menjadi bagian dari gerakan perubahan untuk membangun generasi yang lebih baik dan bermanfaat melalui sastra dan film yang mendidik, menggugah, kaya akan nilai keislaman, moral dan berkualitas

Buat Sahabat Mas Gagah yang ingin memberikan dukungannya,  silakan disalurkan melalui Rekening berikut:
1. Bank Mandiri 1570087778883 a.n Forum Lingkar Pena.
2. BNI Syariah 0259296140 a.n Yayasan Lingkar Pena.

Format korfirmasi : Nama (spasi) kota (spasi) Jumlah (spasi) Rekening yang di tuju
Contoh: GAGAH BANDUNG 1000.000 BNI Syariah
Kirim ke : 08121056956 (Risty)


Ayo Dukung KMGP The Movie dan jadilah bagian dari perubahan. Agar Mas Gagah (tak harus) pergi (lagi)
Read More..

Rabu, 18 Maret 2015

KETIKA TERNYATA KITA TIDAK BELAJAR APAPUN DARI PENGALAMAN

Pengalaman adalah guru terbaik, demikian ungkapan yang selalu kita baca dan kita dengar. Apapun yang kita alami hari ini, sebagian besarnya adalah rangkaian dari pengalaman-pengalaman sebelumnya. Bahkan, kehidupan akhirat kita dihisab dari pengalaman kita di dunia.

Dalam memberikan pelajarannya, pengalaman tidak mengenal sudut objektivitas. Peristiwa keberhasilan maupun peristiwa kegagalan tetap memberikan pelajaran dengan kadar yang sama.
Pengalaman juga tidak mengenal subjektivitas. Ia bisa mengajarkan sesuatu meskipun pengalaman itu bukan bersumber dari pengalaman pribadi. Kita tetap masih bisa mengambil pelajaran dari pengalaman orang lain.

Pengalaman juga mendahului pengetahuan. Dengan pengalaman kita bisa berpengetahuan, sedangkan yang berpengetahuan belum tentu memiliki pengetahuan.

Pengalaman memang sarat dengan hikmah dan pembelajaran. Namun, tidak semua berhasil lulus dari ujiannya. Mereka yang kita anggap telah banyak berpengalaman sekalipun dapat tergelincir jika tidak pernah memegang teguh dan mudah melupakan pelajaran dan hikmah dari pengalaman tersebut.

Jika rutinitas kita adalah buah dari pengalaman, sudahkah kita benar mengaturnya? Jika naik turunnya semangat kita adalah pengalaman, sudahkah kita memahami pengendaliannya? Jika amal ibadah kita adalah pengalaman, sudahkah kita berhasil mempertahankan kualitas dan kuantitasnya? Ketika pengalaman tak lagi mengajarkan apapun pada kita, maka tidak ada satupun yang bisa memperbaiki cara pandang kita terhadap kehidupan.

Sesungguhnya, pengalaman tidak akan pernah berhenti menjadi guru terbaik kita. Pengalaman tetaplah guru yang terbaik sebab dia tidak pernah memberikan pekerjaan rumah padamu dan tidak pula marah padamu meskipun engkau tidak mengerjakannya. Namun, pernahkah kita terfikir menjadi murid yang baik dan mengambil sebanyak-banyak pelajaran darinya?!

Be Wise.
Read More..