Tampilkan postingan dengan label karyasastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label karyasastra. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Februari 2016

LIMA

Tubuh kurus itu terbaring di atas dipan yang terbuat dari papan usang dan tua. Di setiap sudutnya sudah dimakan rayap, lapuk dan menunggu ambruk. Ia masih meringkuk tanpa ragu akan jatuh dan tertusuk paku tajam berkarat menyebabkan luka bernanah, infeksi, tetanus, bahkan kematian. Tiada ragu terus merajut bunga tidur. Memasuki dimensi mimpi yang telah memenuhi labirin angan di siang hari. Tubuh itu meringkuk dibalik selimut lusuh yang juga usang.
Terdengar takbir yang mengagungkan asmaNya. Suara itu begitu dekat menggema dari surau yang hanya beberapa hasta dari batas dinding pembaringannya. Merdu dibawa hening angin pagi yang berbisik di celah daun jendela yang terusik. Menyeruak tabir-tabir keheningan malam yang membelai lelah. Namun, suara itu terasa begitu jauh memanggil-manggil bagi jiwa yang masih akrab dengan pembaringan. Seakan bersumber dari negeri tanpa nama. Menyapa daun telinga yang terbuka. Tapi mata masih juga terpejam menikmati peraduan.
Melenguh sesaat… Membuka mata sesaat…
Kemudian menarik selimut yang juga usang menutup tubuh yang hampir tinggal tulang. Tak butuh waktu lama untuknya terlelap kembali. Dan fajar berlalu bersama untaian kisah yang diawali dengan kealpaan dan ketidak sempurnaan.
*****
Embun telah lelah menyapa dedaun pohon dan rumput-rumput liar di tepi jalan. Menguap dan berlalu seiring pendaran cahaya dari timur yang menggantikan kehadiran malam. Tanpa citra sedikitpun dipermukaannya seolah ia tak pernah hadir di sana. Pendar cahaya itu menghamburkan hijaunya dedaunan yang masih bersemi dan yang kekuningan karena termakan usia, merangas atau bahkan terserang hama.
Bukan suara-suara yang membuat ia terjaga. Melainkan mentari yang sudah meninggi. Mengusik mata dengan sinarnya yang tajam. Menembus celah-celah dinding tepas yang belum juga terganti. Cahaya itu seolah membawa pesan dari penguasa alam. Mencoba menembus gelapnya hati yang mati. Bahkan, cahaya itu tanpa bekas dalam pekatnya.
“Huh…!” keluh kesah menyambut hari yang tak lagi pagi. Terusik istirahat yang selalu dirasa kurang. Namun perut telah meradang. Minta diisi sekalipun hanya dengan sepotong roti yang telah basi. Hidup di dunia masih tetap dianggap berarti. Sedang tidur panjang kematian dianggap hanya dongeng menakutkan yang diharap tak singgah dalam kenyataan.
*****
Tarikan nafas dan denyut nadi menghantarkan hari menuju siang. Tubuh itu kini berbaju lusuh di persimpangan dekat sebuah pasar dengan luka pura-pura. Menengadah tangan berharap sumbangan suka rela. Dengan wajah memelas, mengusik jiwa yang lalu-lalang. Tak ada yang peduli. Hanya sebahagian memandang sinis seperti najis. Sedang yang lain, berlalu tanpa melirik sedikitpun.
Umpatan sering kali terujar dari rongga antara dua bibirnya setiap kali jiwa-jiwa yang lalu lalang itu tidak mengulurkan tangan yang menggenggam recehan. Atau pada mereka yang melemparkan recehan pada kotak di depannya yang nilainya tidak lebih dari sebuah permen. Tentu saja setelah mereka semua berlalu. Lidahnya yang lentur menyempurnakan umpatan itu.
”Pelit!” ”Sombong!” ”Awas kalau aku yang jadi orang kaya!” berkali-kali terujar. Tapi, jiwa-jiwa yang lalu lalang itu tak juga peduli. Sebahagian bahkan mencibir dan menganggap dirinya gila. Semakin jelas pada guratan wajah-wajah mereka dan pandangan mereka yang menghinakan.
Matahari telah tergelincir sedikit menuju tenggelamnya. Gaung suara itu kembali terdengar. Memanggil-manggil dari menara yang tinggi. Dan dari menara yang dapat terlihat dari tempat duduknya. Menembus celah udara dan berbaur keramaian di sana. Merambat dengan kecepatan gelombang beriring kewajiban siang. Tetap ditanggapi sunyi dengan pura-pura menyibukkan diri. Sedang matahari sudah mulai ruku’ melewati pertengahannya.
Tubuh itu hanya berdiam diri tanpa ekspresi. Menyuarakan caci maki sebab  rezeki belum juga diberi. Entah dendam apa yang merasuk hingga suara itu dianggap tabu seolah berasal dari tempat yang jauh di negeri fatamorgana. Dibiarkan berlalu tanpa makna. Suara itu masih sahut-menyahut dari menara yang satu ke menara lainnya. Semakin ramai mewarnai suara yang telah ada. Berlomba dengan suara jiwa-jiwa yang masih terus saja berburu. Entah apa dan berada di mana. Jiwa-jiwa itu selalu hilang dibalik kepengecutan akan ketiadaan dan kehampaan. Ketakutan akan kematian dan kemiskinan.
Terik matahari tak lagi bersahabat. Menunjukkan kemarahannya pada jiwa-jiwa yang terlena. Menyengat masuk menusuk kulit. Memaksa pori terbuka lebih lebar, demi mengeluarkan butiran-butiran halus cairan dari dalam tubuh. Menguap seketika beriring dengan aroma khasnya keringat. Demikian dengan tubuh itu. Tetap bertahan di tepi jalan, di persimpangan dekat sebuah pasar. Meski tanpa atap dia terduduk. Hanya berkupiah tua yang disengaja terlihat kumal. Basah telah menoreh tanda di perban luka yang masih tetap pura-pura. Tetap menengadah tangan dengan erangan suara yang dibuat memelas. Seolah baru saja menghadapi kehidupan yang sangat menyedihkan.
Waktu tak ingin peduli pada hiruk-pikuknya dunia. Tak berhenti meski hanya satu kedipan mata atau satu detakan jantung sekalipun. Tetap melaju menambah jumlah tarikan nafas yang bernyawa di bumi. Menggenapkan hitungan usia dari detik hingga tahun. Menambah jumlah bilangan namun membalikkan kenyataan. Semakin mendekatlah kehidupan lain. Kehidupan abadi yang selalu terlupakan dan sengaja dilupakan. Jiwa-jiwa yang berlari belum juga menyadari akhir perjalanan. Hidup adalah pemberhentian sementara untuk melanjutkan perjalanan. Perjalanan baru dengan bekal yang bukan materi.
Tetap saja menyibukkan diri meskipun mentari mulai sedikit meredupkan teriknya. Mencoba menyentuh jiwa yang sama dengan kelembutan cahayanya. Mengingatkan kejayaan siang akan berlalu. Pun demikian usia, akan berlalu menuju senja. Mimpi esok belum tentu milik dunia.
Jiwa itu masih keras membatu. Atau mungkin telah terbang ke negeri seribu impian miliknya. Meninggalkan tubuhnya yang mematung tanpa mimik. Seakan hidup selamanya, dia memburu angannya secepat dia bisa. Tapi, takut akan kelelahan menjadikannya seorang yang berpangku tangan. Seiring dendam kesumat di hati, sebab asa tak pernah diraih. Bagaimana mimpi diraih sedang langkah tak pernah berpindah? Terlalu asyik berkeluh kesah sedang yang lain telah berpeluh darah. Hingga ia terhenyak.
Tubuhnya tak lagi tegak seperti saat usia terbilang muda. Kini setengah membungkuk dan tertatih. Fikirnya tak lagi setajam mata pahat di atas batu. Segera menghilang layak angin yang menyapa debu. Tapi dendam sudah pun berkarat dengan kadar yang pekat. Menjadi jamur pada hati yang hanya segumpal. Menjadikannya sakit dan kemudian merasakan hidup menjadi pahit.
Dia harus menyalahkan sesuatu. Tapi apa dan siapa? Dia tetap mencari-cari hingga lelah dan mengumpat takdir. Ya, takdir memang layak dipersalahkan. Atau yang menciptakan takdir? Baginya semua warna telah sama. Tetap hitam meski pedoman pernah diajarkan. Berpasrah dengan cara yang salah menjadikannya selalu bersumpah serapah.
”Tuhan tidak pernah adil kepadaku!” demikian ia selalu berbicara ke orang-orang di berbagai tempat dan saat yang ia miliki. Di pinggir-pinggir jalan dan di warung-warung kopi setelah hari menjelang malam. ”Dia hanya memilihkan jalan yang sulit bagiku.” tambahnya mendramatisir. Semakin beratlah timbangan kekecewaanya seiring berjalan usia.
”Bukankah memilih adalah pekerjaannya manusia?” sanggah seseorang kala itu yang terlihat bijaksana. ”Tuhan tetap memberikan dua pilihan dalam setiap kesempatan kita” imbuhnya kemudian. ”Kitalah yang selalu menutup mata pada salah satunya.”
”Tapi aku tidak pernah melihat siang pada hari-hari ku” Cobanya untuk membantah. Tak ingin dipermalukan di hadapan lainnya, meskipun tiada yang benar-benar memperhatikan pembicaraan keduanya. ”Mungkin hanya malam yang setia bersamaku.”
”Kaulah yang tidur terlalu lama, hingga ketika siang menyapa kau tidak melihat pendaran cahayanya. Cobalah untuk terjaga.” Nasehat bijak keluar dari bibir yang sama. Nasehat yang tentu saja dianggapnya sebagai penghinaan disebabkan kesombongan yang dipupuk dalam hatinya. Kesombongan yang dibiarkan subur dengan menolak kebenaran yang dihembuskan padanya.
”Atau kau yang menutup rapat dinding hatimu. Hingga tak satupun cahaya menembusnya.” cecar jiwa yang sama seolah merasa memenangkan pembicaraan sembari menyeruput kopi yang sudah berulang kali ditambahi air. Kemudian memberi tanda kepada pemilik warung untuk menambah lagi air setelah isi gelasnya mendekati setengah. Tentu saja tingkah ini menjengkelkan pemilik warung yang tidak bisa mambantah karena takut kehilangan pelanggan dan rezeki. Ketakutan yang sama dirasakan orang-orang yang duduk ramai di warungnya.
”Bagaimana dengan dirimu?” Dia mencoba menyerang balik. ” Kau hanya menjadi tubuh tua yang bergelut dengan bau busuk sampah  dan terik matahari”. Kali  ini dicobanya menguasai pembicaraan. ”Kau tidak menjadi orang yang bekerja di gedung megah dan bergelar yang terhormat. Tidak pula menjadi tubuh tua yang menikmati dana pensiun. Kau hanya menjadi seorang pemulung yang bau sampah. Adakah kau temukan siang dalam kehidupan seperti itu?” Dia benar-benar berupaya mengendalikan pembicaraan. Sedang tubuh yang di sampingnya perlahan merendah dalam duduknya. Tubuh yang semula tegak itu mulai menunduk, kemudian mengatakan ”Setidaknya aku tidak menjadi peminta seperti mu. Aku masih memiliki harga diri meski kehidupanku dalam keremangan senja. Tak sehitam kehidupanmu yang telah jauh dari ketundukan. Khawatirku hitam itu telah merasuk dan merusak hatimu”
Itulah akhir pembicaraan yang dilakoninya sore hari kemarin di sebuah warung di persimpangan pasar tersebut. Pembicaraan yang hanya mencari pembenaran, dan bukan kebenaran. Hanya menyisakan kerikil yang mengganjal dalam hatinya. Kerikil yang semakin tajam mengikis keberimanannya.
*****
            ”Razia!”. Tiba-tiba saja sebuah suara dari ujung jalan membuyarkan imajinya. Suara yang disusul dengan kericuhan di sepanjang jalan di persimpangan sebuah pasar. Dari arah sumber suara dia melihat beberapa petugas dengan sigap melompat dari mobil patroli, kemudian mulai memburu dan menangkapi rekannya sesama peminta di persimpangan itu. Sejumlah pedagang asongan yang berjualan di pinggiran jalan juga tak luput dari tindakan kasar petugas pamong yang berlindung di  balik sebuah perintah tugas. Pemandangan yang sempat terekam olehnya sebelum ia juga bergegas meninggalkan tempat ia terduduk.
            ”Razia gepeng!”. ”Razia pedagang!” teriak suara-suara. Entah menjawab pertanyaan siapa. Suara-suara itu kemudian berbaur dengan suara lainnya. Suara gerobak dagangan yang didorong pemiliknya yang ketakutan. Suara kaki-kaki yang berlari menyelamatkan diri. Suara detak jantungnya yang dirasa semakin kencang. Dan suara panggilan yang sama, yang siang tadi telah memanggil kini mengumandang kembali dari puncak-puncak menara yang masih terlihat dari persimpangan itu.
            Dia ikut berlari...
Hanya suara itu yang terus mengikuti dari menara satu ke menara lain seolah telah diatur untuk menyusul langkah kakinya yang tergesa. Suara itu terdengar semakin menjengkelkannya. Sedang dalam keadaan lapang suara itu begitu tabu baginya, mana pula saat tergesa seperti ini. Tentulah dia akan memilih menyelamatkan diri daripada harus berurusan dengan pegawai-pegawai berseragam atau menunjukkan ketakutannya pada pemilik panggilan itu.
            Dia masih berlari hingga dengan cepat lelah menghampiri kedua kakinya yang sudah renta. Hanya beberapa meter dari tempat duduknya semula. Kemudian memilih untuk berbaur dengan pejalan kaki lainnya hingga di sebuah tikungan ia berbelok ke dalam gang kecil dan memilih berdiam dan bersembunyi di balik dinding sebuah rumah. Berharap untuk tidak ditemukan siapapun di sana.
            Perutnya tiba-tiba berontak. Mengirim tanda untuk segera diisi. Perut yang belum disapa sebutir nasi pun semenjak pagi. Hingga, ia menyadari bahwa ia telah meninggalkan sesuatu dalam pelariannya. Kaleng tempat ia menerima uang belas kasihan orang padanya. Ia ingat dalam kotak itu sejumlah uang yang mungkin telah cukup baginya untuk menyambung hidup hari ini. Kaleng itu pasti tertinggal saat ia tergesa menyelamatkan diri dari kekejaman petugas yang melakukan razia.
            Perutnya kian mengiris. Suara-suara khas perut yang lapar mulai terdengar. Kedua tangannya diletakkan di perut. Dengan sedikit tekanan berharap dapat mengurangi rasa sakit yang ditimbulkannya. Keluar dari persembunyian berarti dia harus siap untuk tertangkap ke sekian kalinya. Dan setiap kali tertangkap, dia harus menyetor hasil mengemisnya pada hari itu untuk membebaskan diri. Itu juga setelah memberi cap jempol kirinya pada beberapa dokumen yang ia tidak mengerti untuk apa. Dia memilih diam...
*****
            Langit mulai memerah saat tubuh itu beranjak dari persembunyiannya. Menyusuri jalan menuju arah kembali ke persimpangan sebuah pasar. Tidak terlihat lagi tanda-tanda di tempat itu baru saja terjadi hiruk-pikuk. Tapi persimpangan itu masih saja ramai dengan orang-orang yang lalu-lalang.
Dia kembali ke persimpangan itu. Dari kejauhan dia melihat kaleng bekas biskuit miliknya. Masih berada di tempat semula. Semua yang berlalu-lalang sepertinya tidak memperhatikan keberadaan kaleng itu. Mungkin juga isinya yang recehan itu tidak terusik. Harapan itu membuatnya mempercepat langkah demi langkahnya. Ketergesaan menjadikannya tidak awas pada sekelilingnya. Pada para pejalan kaki, penyeberang jalan seperti dirinya, dan pada kendaraan yang melaju. Hanya beberapa langkah ia menyeberang, langkahnya kemudian disusul suara decitan ban yang dipaksa berhenti.
            ”Bruk!”
            Tubuh itu terlempar membentur pembatas jalan sebelum akhirnya terbaring dengan kepala yang mengucurkan darah dan suara mengerang. Peristiwa itu mengundang perhatian keramaian. Segera kerumunan terbentuk melingkari tubuh renta itu. Semua memandang iba, kasihan dan sedih.
            ”Bawa ke rumah sakit!” teriak sebuah suara.
            ”Pelan-pelan mengangkatnya!” teriak suara yang lain lagi
            ”Hati-hati!” imbuh yang lainnya.
            Suara-suara itu masih ia dengar seiring tubuhnya yang mulai diangkat. Kemudian suara itu mulai terdengar seperti dengungan yang tidak jelas ditelinganya. Perlahan menjadi gumaman yang menyertai suara lain yang kini menguasai pendengarannya. Suara yang mengagungkan pemilik waktu siang malam, dan peralihan diantara keduanya. Suara itu tetap mengudara dari menara-menara di sekitar pasar. Namun, sepertinya menara-menara itu masih kalah tinggi dari keangkuhan jiwa yang berdiam di tubuh luka itu. Suara itu tetap terabaikan seiring kesadarannya yang mulai menghilang...
*****
            Malam mulai merangkak. Hiruk-pikuk dunia masih hidup di beberapa sudut. Bahkan dintaranya baru memulai denyutnya. Tapi tidak di surau itu. Setelah suara itu dikumandangkan sebagai penanda kewajiban yang ke lima, sebuah pengumuman kematian menggema menyebutkan sebuah nama. Semua yang hadir saling menatap dan mencoba mengingat si pemilik nama. Dan, semua kemudian berlalu dan melupakan...

*****
Read More..

Rabu, 23 September 2015

SAAT BUALAN RADIO TUA BERAKHIR

Cerita Si Pembual

Hentikan bualanmu tentang segalanya
Ekonomi yang akan membaik hingga stabilitas harga
Muak hati ini mendengar dongenganmu
Gemuruh dada ini menahan amarah

Jangan kau kira jamuanmu ini menjadi penawarnya
Kopi yang kau suguhkan juga tak mampu hangatkan suasana
Terasa pahit seperti warnanya yang hitam pekat
Mungkin itu yang kau inginkan pada hidup kami

Saat kutanya dari mana asal bualanmu itu
Atasan saya juga bicara yang sama
Jawabmu sederhana

Medan, 21 September 2015

Cerita Istri Seorang Nelayan

Hari ini istriku bercerita
Tentang harga-harga yang melangit
Bahkan telurpun tak lagi mengisi perut kami
Padahal radio tua warisan ayahku kemarin memberitakan
Harga sembako aman terkendali

Hari ini istriku bercerita
Tentang tahu tempe yang ukurannya semakin kecil
Sekalipun hanya itu pengganti lauk kami
Beda nyata dengan berita radio tua
Katanya kedelai menjadi pengganti daging tanpa hipertensi

Hari ini istriku bercerita
Tentang beragam jenis uang yang harus dibayarkan
Demi sekolah si bujang
Berbeda dengan berita di radio tua itu
Sekolah dibebaskan dari segala kutipan liar

Risau aku mendengar ceritanya
Tiga hari tak melaut telah membuatnya kalut
Jaring koyak membuat hidup kami sesak
Membuatku bangkit dan berkata padanya
Jual saja radio tua itu

Medan, 20 September 2015

Saat Semuanya Berakhir

Saat semuanya berakhir
Kau takkan lagi disalahkan
Segalanya akan kembali ke sediakala
Sebab kami tak lagi punya apa-apa

Saat semuanya berakhir
Kau takkan lagi dicaci-maki
Segalanya akan kembali sebagaimana ia bermula
Dan mungkin kami sudah tak ada suara

Saat semuanya berakhir
Takkan ada lagi kritik dan sindir untukmu
Sebab kami akan lebih fokus mempertahankan hidup kami
Dan kau boleh memimpin satu periode lagi


Medan, 22 September 2015
Read More..

Rabu, 16 September 2015

PAGI KORUPTOR

Pagi Koruptor (1)
Menyeruput teh hangat di teras rumah megah
Menatap bangga pada taman yang baru ditata
Seraya jiwanya berkata ”ini hasil dari proposal”
Beralih pada kendaraan mewah buatan eropa
Berjajar rapi di  samping bangunan utama
Jiwanya masih berkata ”hasil proyek”
Pandangannya kini pada bangunan utama
Bergaya klasik khas romawi
Mewah layaknya istana
Lagi-lagi jiwanya berkata ”hasil anggaran”
(11 Nopember 2008)

Pagi Koruptor (2)
Masih menyeruput teh hangat di teras rumah megah
Masih bangga dengan harta yang dipunya
Masih berpikir menggelapkan dana
Terusik lamunan dengan tamu yang datang
Berseragam hitam membawa surat penangkapan
Isu-isu kemudian berkumandang
Proposal tidak sesuai dengan proyek dan anggaran
Ada dana yang hilang di balik jas dan kantong
Entah milik siapa
(12 Nopember 2008)

Pagi Koruptor (3)
Di bangunan itu kini bertuliskan
”Di sita pengadilan”
Tak tampak pemilik yang bangga
Kabar-kabarnya telah jadi pesakitan
Di lembaga permasyarakatan
Memakai safari khusus bertuliskan
”Ditangkap karena korupsi”
(15 Nopember 2008)
Read More..

Sabtu, 04 Juli 2015

Membujuk Lelah

Mencoba membujuk lelah
Untuk tidak merebah
Terlalu dini untuk membuat mimpi
Peluhpun tiada cukup menjadi saksi
Untuk cita yang bukan mimpi
Wahai jiwa keluh…
Menjauhlah sebab inginku darah menjadi peluh
Menghias senyum akhir
Perpisahan…

(Ramadhan 1431 H/Agustus 2010)
Read More..

Selasa, 02 Juni 2015

KISAH ANAK PEJABAT

Ini kisah si anak pejabat
Yang dididik ala barat
Sejak kecil tidak pernah belajar shalat
Apalagi berpikir tentang kiamat
Pastilah ia tidak sempat

Waktu berlalu dengan cepat
Sekolah menengah pun ia sudah tamat
Bergaul salah alamat
Hotel dan diskotik jadi habitat
Minuman dan narkotik jadi obat

Si anak pejabat merasa hebat
Selama petinggi jadi teman dekat
Berkali-kali ia selamat
Dari jaring hukum dan aparat

Pejabat kini telah dipecat
Ketahuan menggelapkan uang rakyat
Hidup kini sudah melarat
Si anak pejabat tak jua tobat


Anak pejabat kini jadi penjahat
Read More..

Sabtu, 11 April 2015

SURAT TERBUKA UNTUK ADIK PEREMPUANKU

Kaulah bunga yang belajar mekar
Pelihara dirimu dengan akhlak terpuji
Hingga kau menjadi pribadi teruji
Tidak melarut dalam aroma duniawi

Jangan relakan dirimu disentuh
Oleh cinta yang tiada utuh
Hingga ia halal bagimu
Dalam ikatan pernikahan

Jangan pula mudah kau gadaikan cintamu
Pada cinta yang pura-pura
Hingga mekarmu hanya di kuntum
Dan harumanmu hanya semusim

Saat tiada yang datang dalam penantianmu
Jangan pula kau gugurkan kelopakmu
Satu demi satu
Hingga dirimu rebah ke tanah
Yakinlah kau tetap memiliki cinta
Yang terpelihara dan abadi

Wahai adikku...
Rayulah cinta-Nya
Read More..

Rabu, 18 Maret 2015

HARAPAN DI UJUNG LAUT


            “Saat kau tak menemukan harapan di daratan. Pandanglah ke arah laut. Kau akan temukan harapan di ujungnya.”
            Lelaki paruh baya itu masih berdiri di bibir tangkahan. Memandang cakrawala menjingga yang menghantarkan burung-burung menuju sarangnya. Kulitnya yang hitam terlihat semakin mengilap manakala memantulkan sinar matahari senja kembali ke udara. Kedua kakinya menjejak teguh di atas papan tangkahan yang hampir lapuk. Tepat di hadapannya, sebuah perahu berukuran sedang bergoyang-goyang meningkahi riak ombak kecil yang menghampiri buritannya. Dengan setengah membungkuk, pandangannya kini seksama memperhatikan beberapa bagian perahu yang baru diperbaiki. Senyum di bibirnya menguraikan kepuasan pada hasil yang diperolehnya. Perahu itu kini telah siap menopang kehidupannya kembali.
         
  Seorang bocah lelaki kemudian terlihat menyusulnya. Langkah kakinya begitu hati-hati melewati beberapa kayu yang sudah terlihat tua. Memastikan terlebih dahulu bahwa keputusannya tepat untuk kemudian menjejakkan kaki dipermukaannya. Langkah langkahnya menghantarkan tepat disamping lelaki tersebut. Kehadirannya mampu mengalihkan perhatian sang Ayah dari perahunya.
            “Lihatlah, perahu ini telah gagah kembali. Dia telah siap membawa Ayah kembali ke laut.” Ujarnya seperti bergumam sembari menepuk pundak sang anak.
            Bocah itu hanya terdiam. Sedikit mendesah tapi tetap tak bersuara. Masih asyik dengan alam pikirannya. Wajahnya yang menengadah terlihat serius memperhatikan sang Ayah. Menikmati kerinduan seolah tidak ingin melewatkan satu detikpun kebersamaan bersama Ayahnya. Saat-saat yang jarang dimilikinya.
Seketika dia menarik nafas dengan dalam dan melepaskannya dengan setengah menghempas. Seakan merasakan beban yang demikian berat pada perpisahan yang telah bermain dalam angannya.
            “Mengapa Ayah begitu membanggakannya?” Bocah itu bersuara. Matanya menyiratkan banyak pertanyaan yang ingin dimengertinya. Wajah lugunya menuntut jawaban dari sang Ayah demi kerinduannya. Sebab yang ia mengerti setiap kali Ayahnya melaut merupakan perpisahan baginya. Perpisahan yang selalu ingin dimengertinya sejak lama. Tak pernah ia mendapati Ayahnya di pagi hari sebab telah melepaskan tambatan perahu dan mengejar harapannya di laut saat lambungnya masih akrab di pembaringan. Ia masih terlelap kala itu. Dan tidak pula mendapatinya di malam hari karena Ayahnya pulang manakala ia telah kembali terlelap. Lama Ayahnya menghabiskan waktu di laut, menabur harapan-harapannya. Membawa isinya menepi, dan mempertaruhkan kehidupannya pada badai yang menyapa. Dia hanya senantiasa merasakan buaian dan senandung Ibunya. Senandung tentang kehidupan nelayan. Senandung tentang kecintaan pada laut dan harapan. Dan senandung tentang sang Ayah. Hingga perahu itu kembali berlabuh dan tertambat di tangkahan ini.
            “Perahu itulah yang akan menghantarkan Ayah pada harapan. Tiang-tiangnya adalah mimpi-mimpi Ayah. Di dalamnya bertumpu cinta, kehidupanmu dan Ibumu.” Lelaki itu menghela nafasnya. Dia sama sekali tidak berharap bocah disampingnya mengerti pada ucapannya. Tidak pula ingin berbagi kerinduannya. Guratan wajahnya memperlihatkan kehidupan sulit yang tengah dihadapinya, tidak menginginkan hal yang sama diwariskan pula pada putranya. Kehidupan sulit sebagai seorang nelayan. Hingga ia mengorbankan kerinduannya. Yang ia yakini bahwa kehidupannya telah ia gadaikan untuk keluarganya. Ia ingin putranya memiliki kehidupan yang lebih layak. Menyandang gelar pendidikan tinggi dan bekerja di gedung-gedung besar, dan tidak bergelut dengan ombak lautan. Setidaknya dia menginginkan anaknya tidak menjadi nelayan seperti dirinya. Bermain dengan kerinduan hanya akan menjauhkan harapan-harapan itu darinya.
            “Suatu saat, kau akan mewarisi harapan itu. Seperti Ayah yang harusnya mewarisi lebih dahulu.”
“Bagaimana jika aku tidak menginginkannya?” Lemah suara sang anak seolah bergumam pada dirinya sendiri.
“Harapan itu telah menjauhkan Ayah dariku.” Suaranya sedikit lebih berat. Nada kecewa jelas terdengar dari caranya bersuara. Bukan jawaban itu yang diinginkannya. Jawaban yang tidak menenteramkan kerinduan jiwanya pada kasih sayang sang Ayah. Hampir saja air matanya jatuh. Sekuat tenaga ia berusaha menahan perasaannya. Ia tak ingin terlihat lemah dihadapan Ayahnya sebagaimana Ayahnya yang menyembunyikan kerinduan padanya. Dia merasakan itu.
“Kau tidak mengerti, Irman. Usiamu masih terlalu muda untuk memahami harapan itu.” Suara Ayah melembut. “Kaulah harapan itu.”
“Laut hanya menjadi tempat di mana harapan itu tumbuh. Dan perahu hanya alat yang menghantarkan Ayah pada harapan-harapan itu. Sedang harapan itu tetap tinggal di sini. Kaulah harapan itu, Irman.” Wajahnya menatap lekat pada putranya. Berusaha menenteramkan kerinduan dua jiwa yang tengah berhadapan. Menanamkan keyakinan yang sama pada putranya. Mempertaruhkan kerinduan demi harapan-harapan yang masih dan selalu dirindukan. Harapan tentang kehidupan yang lebih layak di kemudian hari.
“Kelak, kaulah yang menggapai harapan itu. Tanamlah dimanapun kau ingin harapan itu tumbuh. Saat kau tak menemukannya di daratan. Pandanglah ke arah laut. Kau akan temukan di ujungnya.”
Lelaki paruh baya itu kembali menatap perahunya. Pandangannya menembus papan-papan perahu itu, hingga ke bibir pantai dan merdeka di laut lepas. Sedang sang bocah masih diam. Masih mencoba mengerti pada jawaban yang baginya masih menggantung…
*****
            Matahari sudah menampakkan sinar jingganya. Sedang aku masih berdiri di depan jendela menatap keluar rumah. Pandanganku terarah pada kandang ayam yang belakangan ini penghuninya semakin sedikit karena telah sering dijual untuk memenuhi kebutuhan kami. Dulu, Ayah selalu menyempatkan dirinya mengurus ayam-ayam itu di sela-sela waktunya sebagai nelayan, dan aku akan senantiasa menemani dan memperhatikan apa yang sedang dikerjakannya. Sesekali aku turut membantu mengambilkan barang-barang yang diperlukan Ayah.
            “Suatu saat, kau tidak perlu lagi mengurus ayam-ayam ini, Irman. Karena Ayah yakin kau akan bekerja di gedung yang besar dan megah.”
            “Belajarlah dengan rajin, hingga kau tidak perlu lagi merasakan berkubang dengan ayam atau terobang-ambing di lautan” demikian Ayah selalu berkata kepadaku. Kenangan itu terus bermain dalam pikiranku. Menyertakan kerinduan yang amat sangat pada sosok seorang Ayah.
Mungkin Ayah benar bahwa suatu saat aku tidak akan mengurus ayam-ayam itu karena ayam-ayam itu telah habis terjual. Tapi Ayah juga salah sebab aku tidak pula pernah mengecap pekerjaan sebagaimana yang diimpikan Ayah. Pekerjaan yang bisa mengangkat derajat kehidupan keluarga. Aku tidak pernah mendapatkannya. Kepergian Ayah memutuskan jenjang pendidikanku.
Angin yang berhembus lembut melalui rongga jendela menyapa wajahku. Kelembutannya mencoba menenangkan kegalauanku tentang keberlangsungan hidup kami. Aku memperhatikan ibu yang baru saja mengangkat jemuran. Pandanganku terus mengiringi langkahnya menuju dipan panjang di dapur rumah ini. Tempat biasa kami berkumpul dan bercanda saat-saat Ayah harus memperbaiki perahunya. Hingga ia duduk di bibir dipan itu dan membiarkan kakinya menjuntai menyentuh lantai. Aku masih tekun memperhatikan Ibu yang mulai memilah jemurannya.
            “Aku akan melakukannya, Bu.” Tekadku bulat. Keputusan itu harus ku ambil demi keberlangsungan hidup kami. Tanggungjawab kehidupan keluarga ini sekarang berada di tanganku, anak lelaki satu-satunya.
            “Tapi kau tidak pernah menginginkannya, Irman.” Ibu mencoba mencegahku. “Kau tidak pernah ingin mewarisi perahu itu, meskipun kini perahu itu menjadi milikmu.” Ibu menatapku sesaat, kemudian melanjutkan pekerjaannya kembali. Tangannya yang sedikit keriput terlihat masih lincah memilah dan melipat pakaian yang baru diangkat dari penjemurannya. Sesekali tangan itu memperbaiki ujung selendangnya yang terjatuh karena lama menunduk, kemudian menyilangkan kembali selendang itu di kepalanya. Menampakkan lehernya yang semakin jenjang karena semakin kurus. Kesedihan masih tergurat di wajahnya. Kesedihan karena kehilangan suami sebagai penopang kehidupannya dan kehidupan kami anak-anaknya. Kehilangan yang hanya menyisakan aku yang hampir gagal menyelesaikan sekolah menengah atas serta dua adik perempuanku yang masih butuh biaya bersekolah.
            “Perahu itu telah kehilangan nakhodanya, Bu.”
            “Perahu itu telah lama tertambat. Membiarkan mesinnya berkarat, kayunya lapuk, dan jaringnya terkoyak. Perahu itu telah sekarat, Bu. Seperti kehidupan kita, Bu” cobaku meyakinkan Ibu.
            “Kau jual saja, dan kau bisa menggunakan uangnya untuk merajut harapanmu di sini, hingga kau tak perlu melaut.”
“Sejak kecil kau selalu mengatakan bahwa kau tidak ingin menjadi pelaut.”
            “Tidak, Bu. Perahu itu adalah harapan Ayah. Aku tak akan menjualnya. Sedang di sini, harapanku telah kandas karena keserakahan manusia.”
            Aku memang tidak pernah berhasil membangun impianku di daratan. Permukaannya terlalu keras untuk kuukir menjadi cerita manis kehidupanku meskipun telah berkali-kali kuwarnai dengan peluhku. Tanahnya tak mengijinkan untuk kumiliki walau sekedar untuk bercocok tanam, hanya sepetak rumah yang menyisakan sedikit halaman yang digunakan untuk menjemur pakaian dan kandang ayam seadanya.
            Pernah kucoba berdagang dengan modal seadanya. Namun harus berhadapan dengan kepicikan pedagang yang bermodal besar. Hanya beberapa waktu saja daganganku menjadi kenangan. Pernah pula kucoba mempertaruhkan ijazah yang kumiliki. Hasilnya sama saja. Semua pekerjaan yang kulamar mensyaratkan biaya administrasi yang tidak ada tercantum dalam persyaratan pelamaran dan tak pula bisa kupenuhi. Keserakahan manusia-manusia di daratan telah menyingkirkan kesempatan orang-orang yang terpinggirkan sepertiku. Hingga, aku terjepit diantara kebutuhan hidup yang harus kupenuhi. Akhirnya aku memilih untuk melanjutkan harapan-harapan Ayah di laut. Keputusan yang hingga saat ini belum mendapat restu Ibu.
            “Kau sama sekali belum mengenal laut, Irman.”
            “Laut memang terlihat indah tapi ombaknya dapat bergulung-gulung secara tiba-tiba. Langit birunya menyembunyikan awan hitam yang siap menjadi badai. Kau belum pernah menyapanya, hingga kau belum mengenalnya.” Ibu masih belum memberikan restunya atas keputusanku.
            “Tapi laut juga menyimpan harapan, Bu.”
            “Seperti Ayah, aku ingin menjemput harapan itu di sana. Aku hanya perlu memastikan perahuku kuat menembus ombak dan menahan badai, serta jaringku mampu mengangkat ikan-ikan ke atasnya. Aku hanya berhadapan dengan kehendak laut, dan bukan keserakahan manusia-manusia yang katanya berakal.” Aku mencoba memenangkan pilihanku di atas keraguan Ibu.
            “Khawatir Ibu kepadamu, Irman.” “Tanganmu akan kasar karena menebar jaringnya, mungkin juga akan tergores ketika mengangkatnya kembali. Kulitmu akan semakin hitam terbakar matahari.” Ibu terdiam sejenak.
“Kau upah saja orang lain melayarkan perahumu.”
            “Bu, Janganlah kecintaanmu menjadikan aku lemah menghadapi hidup, Bu.” Nada suaraku sedikit mengiba, berharap kali ini Ibu memberikan izin dan do’anya. Ibu hanya diam. Menghela nafasnya sesekali. Aku terus memperhatikannya dalam diamku. Tak ingin rasanya memaksakan inginku pada Ibu yang selama ini telah berpeluh untukku. Telah beberapa kali aku membicarakannya dengan Ibu, namun Ibu belum memberi restunya padaku.
Aku berdiam menunggu keputusan Ibu. Keputusan yang kuharap bukan keputusan kemarin. Ku lihat Ibu menghela nafas
            “Pergilah, Nak.” Suara Ibu pelan. “Tak pernah inginku mendidikmu dalam kelemahan. Jika inginmu melebihi kekhawatiranku, maka berangkatlah engkau.” Kata-kata Ibu semakin lemah bahkan hampir tak terdengar. Ia berusaha menyembunyikan kerisauannya dengan mengalihkan pandangannya. Sempat kulihat butiran bening menggenang di matanya sebelum ia sempat menunduk dan menyembunyikannya…
*****
            Wanita itu duduk termenung di bibir tangkahan. Kebiasaan yang akhir-akhir ini sering dilakukannya menjelang sore. Wajahnya menyimpan kisah sedih yang buram. Tanpa peduli pada beberapa pasang mata yang menatapnya iba. Dia akan senantiasa ke tangkahan itu. Tangkahan tempat harapannya tertambat. Tangkahan tempat ia melepas dua lelakinya. Suami dan anaknya yang hilang di ujung laut.
            Di tangkahan itu kemudian dia akan duduk menunduk. Mulutnya yang senantiasa bersenandung, kini lirih, menceracau tak menentu. Senandungnya hanya tentang kepedihan, bukan tentang laut dan nelayan. Senandungnya tentang kehilangan, bukan mimpi dan harapan. Hanya, kedua matanya kali ini tidak lagi menitiskan air mata. Mungkin telah habis beberapa hari yang lalu. Mungkin juga telah hanyut bersama pasang surut air laut. Hilang bersama kabar perahu anaknya yang pecah di tengah badai. Kabar yang membuat pikirannya galau, kalut dan mengguris pikirannya. Hingga kemudian dia berlari ke bibir tangkahan dan meraung di sana. Sejak itu, dia senantiasa ke tangkahan menjelang matahari terbenam. Hingga anak gadisnya menjemputnya pulang dari tangkahan itu…
*****


Read More..

Senin, 16 Maret 2015

UNTUKMU YANG TERSENYUM DI UJUNG HARI

Kau yang ku lihat tersenyum di ujung hari
Adalah gadis yang sama ku temui hari kemarin
Dan hari itu…
Kita bercerita tentang kisah yang lain
Hingga beberapa musim berlalu

Kau yang ku lihat tersenyum di ujung hari
Adalah gadis yang sama ku sunting hari ini
Ku pilih untuk menggenapkan separuh dienku
Dan seiring bergantinya hari…
Kita mulai merajut cerita berbeda

Mari kita mulai dengan niat suci dan perbaiki diri
Sebab pagi masih terlalu dini dan matahari belum terbit lagi
Cukupkan mimpi sampai sepenggalahan
Dan saatnya nanti…
Kita duduk bersama hingga berlalunya petang

Kau yang ku lihat tersenyum di ujung hari
Adalah gadis yang sama yang kelak menemani
(Tanjungbalai, 5 Maret 2011)
Read More..